Artikel ilmiah yang ditolak jurnal sering menimbulkan kekecewaan bagi penulis, terutama bagi mahasiswa pascasarjana dan peneliti pemula.
Penolakan bukan berarti kualitas riset buruk, tetapi menandakan bahwa naskah membutuhkan penyempurnaan yang lebih terarah.
Memahami cara memperbaiki artikel ditolak jurnal menjadi langkah penting agar naskah dapat diajukan kembali dan memiliki peluang lebih besar untuk terbit di outlet akademik yang kredibel.
Saat memperbaiki naskah, penulis perlu meninjau ulang metodologi, struktur logika, kualitas sitasi, dan keselarasan dengan fokus jurnal.
Dalam beberapa tahap, proses revisi ini juga membantu meningkatkan kualitas karya ilmiah secara substansial dan memperkuat posisi penulis sebagai kontributor akademik.
Penyebab Umum Artikel Ditolak Jurnal dan Cara Mengidentifikasinya
Penolakan kerap terjadi karena artikel tidak sesuai dengan scope jurnal, tidak memenuhi standar metodologis, atau memiliki kelemahan pada kualitas penulisan.
Banyak artikel gagal karena bagian pendahuluan tidak menunjukkan celah riset yang jelas, sehingga editor melihat riset tersebut tidak memberikan kontribusi baru.
Selain itu, kesalahan pada format referensi, kurangnya literatur mutakhir, atau hasil analisis yang terlalu dangkal juga menjadi penyebab umum.
Meninjau kembali author guidelines sangat penting karena banyak penulis mengabaikan detail teknis seperti gaya sitasi, batasan kata, dan struktur wajib.
Langkah ini membantu penulis melakukan perbaikan terarah sebelum mengirim ulang ke jurnal lain atau revisi ke jurnal yang sama.
Cara Memperbaiki Artikel Ditolak Jurnal Secara Sistematis
Memahami Feedback Editor dan Reviewer Secara Mendalam
Langkah paling krusial adalah membaca komentar reviewer dengan objektif.
Jangan hanya mencari bagian yang mudah diperbaiki, pahami juga kritik substantif seperti ketidakjelasan rumusan masalah atau metode yang kurang transparan.
Biasanya reviewer memberikan indikator yang sangat spesifik yang dapat dijadikan petunjuk untuk meningkatkan kualitas naskah.
Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa artikel yang di-revise and resubmit dengan menanggapi kritik secara komprehensif memiliki peluang publikasi jauh lebih tinggi.
Penulis perlu membuat tabel response to reviewers untuk menjelaskan perbaikan secara sistematis dan profesional.
Memperbaiki Struktur, Argumen, dan Keaslian Analisis
Artikel akademik dinilai dari kedalaman dan kejelasan argumen.
Pastikan setiap klaim ilmiah didukung literatur terkini dan relevan.
Jika artikel ditolak karena tidak menunjukkan novelty, penulis dapat memperkuat teori, memperjelas posisi riset sebelumnya, atau menambahkan analisis tambahan.
Beberapa kesalahan umum yang sering saya temui saat mendampingi mahasiswa adalah penggunaan literatur lama, metode tanpa justifikasi, dan hasil yang hanya mendeskripsikan tanpa analisis kritis.
Koreksi pada tiga area ini sering kali langsung meningkatkan kualitas naskah secara signifikan.
Menyesuaikan Format dengan Standar Jurnal yang Ditargetkan
Setiap jurnal memiliki gaya format yang berbeda, mulai dari APA, MLA, hingga Chicago Style.
Pelajari detail-format seperti gaya sitasi, struktur tabel, serta aturan ethical clearance.
Artikel sering ditolak hanya karena tidak mengikuti pedoman teknis, meskipun secara substansi sudah baik.
Untuk memperbesar peluang publikasi, penulis dapat mempelajari berbagai jurnal sebagai pembanding.
Bila perlu, gunakan layanan profesional seperti editing bahasa akademik untuk memastikan tulisan memenuhi standar internasional dan bebas dari plagiarisme.
Strategi Re-Submission agar Artikel Siap Publish Ulang
Memilih Jurnal Baru yang Lebih Relevan
Jika jurnal sebelumnya jelas menyatakan bahwa artikel tidak sesuai dengan ruang lingkup mereka, pertimbangkan untuk mengirimkannya ke jurnal lain.
Pastikan jurnal baru memiliki fokus riset yang sejalan dengan tema penelitian.
Hal ini lebih efektif dibandingkan memaksakan revisi pada jurnal yang sejak awal tidak relevan.
Menggunakan daftar jurnal terindeks dan membaca beberapa edisi terbaru menjadi langkah penting untuk memastikan kesesuaian.
Beberapa penulis berhasil publish ulang setelah memindahkan artikel ke jurnal dengan orientasi metodologi atau tema yang lebih tepat.
Memanfaatkan Sumber Daya Publikasi Akademik
Saat proses revisi, penting untuk mempelajari praktik terbaik publikasi ilmiah.
Salah satu rujukan yang bisa dimanfaatkan adalah panduan Publish Jurnal dari berbagai penerbit bereputasi, yang membantu peneliti memahami alur teknis serta standar kelayakan ilmiah.
Contoh referensi dapat ditemukan pada sumber seperti Publish Jurnal yang menjelaskan proses screening hingga tahap final editing secara sistematis.
Selain itu, peneliti pemula dapat memperdalam pemahaman melalui platform edukasi sepertiZona Belajar Nusantara yang menyediakan wawasan tambahan terkait teknik penulisan akademik dan etika publikasi.
Mengintegrasikan pembelajaran dari kedua sumber ini sering membantu penulis mempercepat proses revisi secara signifikan.
Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya
Dari pengalaman mendampingi peneliti pemula, kesalahan paling sering ditemukan terletak pada ketidaksesuaian antara tujuan riset, metode, dan hasil.
Misalnya, peneliti menggunakan metode kualitatif tetapi menyajikan analisis seolah-olah kuantitatif. Inkonsistensi ini biasanya langsung dikritik reviewer.
Kesalahan lain adalah abstrak yang terlalu panjang atau tidak mencerminkan isi naskah.
Banyak mahasiswa menulis abstrak setelah naskah selesai namun tidak memastikan ringkas, informatif, dan mencakup tujuan, metode, serta temuan utama.
Beberapa artikel juga ditolak karena kurangnya state of the art.
Reviewer menilai bahwa penulis belum menunjukkan apa celah riset terkini yang ingin diisi.
Untuk menghindari penolakan, penulis perlu memperkaya referensi dengan jurnal 5 tahun terakhir, terutama dari Scopus atau Web of Science.
Kesimpulan
Memahami cara memperbaiki artikel ditolak jurnal sangat penting agar naskah memiliki peluang besar untuk diterima pada proses submit ulang.
Mulai dari membaca komentar reviewer secara cermat, memperbaiki struktur analisis, hingga menyesuaikan format dengan pedoman jurnal.
Setiap langkah revisi membantu meningkatkan kualitas ilmiah, sekaligus memperkuat kredibilitas penulis dalam dunia akademik.
FAQ
1. Berapa lama waktu ideal untuk memperbaiki artikel yang ditolak jurnal?
Waktu ideal bergantung pada kompleksitas revisi. Untuk revisi substansial, penulis biasanya membutuhkan 2–4 minggu. Namun, jika revisinya teknis, 3–7 hari sudah cukup sebelum artikel dikirim ulang.
2. Apakah boleh mengirim artikel ditolak ke jurnal lain tanpa revisi?
Sebaiknya tidak. Artikel yang sudah ditolak hampir pasti memiliki kekurangan. Mengirim ulang tanpa revisi hanya menurunkan peluang penerimaan di jurnal berikutnya. Perbaikan menyeluruh merupakan langkah wajib.
3. Bagaimana memastikan artikel tidak ditolak karena plagiarisme?
Gunakan aplikasi pendeteksi plagiarisme dan hindari parafrase berlebihan tanpa pemahaman konsep. Pastikan setiap ide dari literatur disertai sitasi yang tepat dan gunakan gaya bahasa akademik yang konsisten.